CONTRIBUTORS

Dorothea Rosa Herliany

Born in Magelang, October 20, 1963. She has published over 20 titles, including schenk mir alles, was die Männer nicht besitzen. doch schenk mir nicht das Himmelreich / Beri Aku Semua Yang Dibutuhkan Lelaki, tapi Bukan Surga (Indonesian German bilingual, multimedia, CD ROOM, (Germany (2009). Her book Kill the Radio was republished in the UK (Arc Publications, London, 2007). She had received numerous awards as the best author from Jakarta Art Council (2000) and The Indonesian Language Center (2003). Also awards from the Ministry of Culture Art and Tourism of Republic Indonesia (2004) and The Khatulistiwa Literary Award (2006). In 2009 she received a fellowship from the Heinrich Boll Foundation, and stayed in Germany for 4 months. Also been residency to Australia several times in 2000 and 2002. She is now managing house books “Dunia Tera” in the village around Borobudur, Magelang, Central Java, Indonesia.
Lahir di Magelang, 20 Oktober 1963, sudah menerbitkan 20 judul buku lebih, termasuk schenk mir alles, was die Männer nicht besitzen. doch schenk mir nicht das Himmelreich / Beri Aku Semua Yang Dibutuhkan Lelaki, tapi Bukan Surga (dwi bahasa Indonesia-Jerman, multi media, CD ROOM, Jerman (2009). Buku puisinya, Kill the Radio diterbitkan ulang di Inggris (Arc Publication, 2007). Ia pernah menerima sejumlah penghargaan sebagai pengarang terbaik, di antaranya dari Dewan Kesenian Kesenian Jakarta (2000) dan Pusat Bahasa (2003). Juga, penghargan seni dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI (2004) dan peraih Khatulistiwa Literary Award (2006). Pada tahun 2009 ia menerima recidency fellowship dari Heinrich Boll Foundation, dan tinggal di Jerman selama 4 bulan. Pernah. Juga pernah residensi ke Australia (2000 dan 2002). Pekerjaannya sehari-hari selain menulis adalah mengelola Rumah Buku DUNIATERA, di Wanurejo, wilayah Borobudur, Magelang.

Metamorphosis Drumming | Tambur Metamorfosa

Metamorphosis Drumming let there be a river let there be a rock let there be water let there be earth let there be a fish let there be light on the sea let there be a ripple let there be …

Posted in SPOONBENDING | Tagged

Tentang Mengajari Anak Perempuanku Berkuda | Teaching My Daughter to Ride a Horse

Tentang Mengajari Anak Perempuanku Berkuda Di atas kuda, Anak perempuanku menjadi makhluk lain pegasus bersayap anak-api yang berkata: Ayo, jalan, mama, jalan! Dan, Apa tak bisa lebih cepat? Kaki anak perempuanku menjepit tubuh si kuda persis seperti dulu menjepit tubuhku …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Bersyarat | Conditionals

Bersyarat Jurang pemisah membuka dan di sekitarnya retakan-retakan bumi menggigit sulur rasa dari mulut tinggal mengering, simbiosis retakan tepi merah. Perkataan perempuan itu terlepas dan berlari menertawai lainnya tak berlipat, lengan sang lelaki kokoh dan hangat bila dipegang menggerogot memompa …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Impian Tentang Kerja | A Dream of Work

Impian Tentang Kerja Tengkorak kita yang tersesat saling mengitari geloyor lapisan lemak dalam cahaya lampu kantor yang meredamkan cahaya. Kita di sini demi ada di sini, senantiasa siap sedia. Kerja yang membara keterdesakan yang tak begitu mendesak – suara-suara manusia …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Dalam Berjalan | On Walking

Dalam Berjalan Selalu dan senantiasa sama, satu kaki di depan yang lain: suatu tindakan pemberontakan pada masa emisi karbon: kau mengklaim kembali waktu yang telah hilang ketika kau berjalan. Demikianlah caranya jarak, hari dan impian dilewati dengan irama langkah yang …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Istana Windsor | Windsor

Istana Windsor tak ada seorang pun membangunkan sang Ratu yang menelungkup di atas meja di antara makanan yang tinggal sedikit tak banyak yang masih tersisa namun tetap mengotori tangannya saat dia hendak masukkan tangan ke dalam jubah kilau tajam serupa …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Kuburan Suamiku | My Husband’s Grave

Kuburan Suamiku Aku merobek widuri kapas dari rumput di samping kuburanmu. mungkin kau injak hamparan rumput itu menjelang kepergianmu yang terakhir, menarik duri dari celanamu, mengagumi bunga ungu menawan. Alangkah jauh kau berjalan, lewat tumpukan jerami terbakar dan rumah-rumah kosong, …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Married to a Knife | Nikah Pisau

Married to a Knife i have arrived somewhere, spinning in a labyrinth, it was a long journey, without a map. and the darkness is perfect. I followed a lane between a river and a chasm. there was a scream. it …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Tempat Tali | Timber Hitch

Tempat Tali Perempuan itu terlipat ke dalam sinar matahari dan aku putuskan untuk memanfaatkannya. Matahari, cahaya, merupakan pelajaran mengenai bangunan. Pelajaran atas sinar matahari yang mengena sekarung goni gandum gorden tertutup, menjadi. Aku memintanya mengisi air pada bak mandi dan …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Hujan Tropis | Tropic Rain

Hujan Tropis Daun telinga gajah laksana talam sajian sempoyongan di bawahnya, hujan tropis memecut ke samping, tersandung seperti kibaran terpal di pohon palma, rimbun, simfonik, tak ada gambar di dalamnya. Bara api yang tersulut dari pukulan air-tempaan pada tepian pakis, …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Dari Kereta di Connecticut | From a Train in Connecticut

Dari Kereta di Connecticut Kapling Bengkel Petrillo, penjajah suku cadang mobil di pinggir kota New Haven terisi ribuan mobil yang tak begitu tua namun semuanya rongsokan, berkarat, dengan roda tanpa ban dan kaca jendela berkatarak Tak ada jiwa yang tampak, …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,

Hitunglah Kebaikan Yang Pernah Kau Berikan | Pony Up Your Beatitudes, Homeboys

Hitunglah Kebaikan Yang Pernah Kau Berikan, wahai teman-teman sepermainanku Hitunglah kebaikan yang pernah kamu berikan, wahai teman-teman sepermainanku.      Nujuma dari penasehatku – yang bilang niat itu tak terlalu penting untuk semua yang telah diniatkan – cukup untuk menjelaskan gagasan tentang …

Posted in 40.1: INDONESIA | Tagged ,