and
Impian Tentang Kerja | A Dream of Work

4 November 2012

Impian Tentang Kerja

Tengkorak kita yang tersesat saling mengitari
geloyor lapisan lemak dalam cahaya lampu kantor
yang meredamkan cahaya. Kita di sini
demi ada di sini, senantiasa siap sedia.
Kerja yang membara
keterdesakan yang tak begitu mendesak
– suara-suara manusia memadamkannya,
rekan-rekanku, saudara-saudaraku!
Suara kita menggertak udara, kisah kita
adalah kisah dunia, pacar-pacar lelaki
membereskan kebun belakang rumah demi cinta,
mencemooh diri terlalu kurus atau terlalu gemuk.
(Dalam urusan bobot tubuh
kita menyadari posisi kita.)

‘Makna kerja?’
pekerjaan menghasilkan topeng, kerangka,
rumah, yang menjadi milik kita

Mengharap pengakuan seperti
anak sekolah dengan gambar baru berwarna-warni,
berharap ikhtiar kita
selamanya tak bergeser dari rak di ruang,
namun dicatat dan diletakkan di sebuah taman
istilah setempat, menyuapi bahasa-bahasa kantoran
dan manajer-manajer berbaik hati yang menegur kita
saat kita tidak bekerja, dan mengawasi saat kita bekerja.
(Dan departemen yakin sebagaimana mestinya,
lintasan manusia dapat diatur, dimulai
dari benih terkecil sebuah kelahiran.)
Yang kita inginkan dari kerja hampir serupa cinta.

Bagaimana otak kita di masa kanak-kanak dibakukan:
hutan suara-suara, gerakan cahaya
menyentuh dan menggelitiki kita,
cinta yang menentukan kita,
tak pernah berubah, selamanya.
Kita diciptakan dari apa yang kita cintai:
lorong pikiran kita dilekuk jempol-jempol buruk
oknum yang mengakali dengan cara sehalus-halusnya
Sebagai orang dewasa, kita hampir tak bisa diubah,
namun mendambakan perubahan, semacam
kemendadakan dalam pembuluh darah.

Di tempat inilah kita pikir diri kita disia-siakan,
saban hari melangkah keluar dari lift
masuk ke dalam dunia-harian yang berpura sebagai dunia betulan,
berujar selalu tidak-pernah-ada-cukup-waktu-dalam-satuhari,
kelelahan yang hampir makrifat
perubahan, tapi terus terkenang-kenang
kehilangan barang, tak pernah bisa kembali
kecuali dalam bentuk kurang sempurna
lenyap sudah, berubah.
Dan kejemuan adalah rasa bersalah dengan beban berat
Aku duduk terikat pada kursi dalam setelan pakaianku
seperti balon di seutas tali
menjulang dan terombang-ambing di jendela,
dimana seekor anjing menyalak di sebuah balkon di tengah kota.
Aku seharusnya terlibat, aku seharusnya peduli,
namun pekerjaan menuntut begitu sedikit dariku sehingga
aku menyerah, aku membiarkannya mengambang di udara.


A Dream of Work

Our lost skulls orbit one another
in their fleshfolds, in the office’s
light-eating light. We are here
to be here, reliable as mustard.
Work smoulders
a not quite urgent urgency
– human voices quench it,
my colleagues, my brothers!
Our voices grind the air, our tales
are the tales of the world, boyfriends
shovelling backyards for love,
self-jeers of too-skinny, too-fat.
(We know our place
in the hierarchy of weight.)

‘The meaning of work?’
It makes us a mask, a shell,
builds us a house, it is ours.

Needing recognition like
a child at school with a bright new painting,
wishing that our efforts
did not slide forever on a shelf in space,
but were noted and added to a garden
of local meaning, feeding office languages
and kindly managers who straiten us
when we are not working, and notice when we are.
(And the department believes as it must, it can adjust
human trajectories, beginning
with the smallest seed of birth.)
What we want from work is almost love.

How our brains in infancy are worlded:
forests of voices, the moving light
touching and tickling us,
the love that sets us,
never to change, forever.
We are made by what loves us:
our thought-paths grooved by the terrible
thumbs of those who try their best.
Adults, barely changeable,
we long for change, some quick
suddenness in the veins.
Here we think ourselves wasted,
stepping each day off the elevator
into a day-world farcing as whole-world,
saying never-enough-hours-in-the-day,
exhaustion almost spiritual,
change, but not sleep
the thing given up, never to be returned
except inexactly,
already gone, already changed.
And boredom is a terrible guilt.
I sit tied to a chair in my suit
like a balloon on a string
looming and bobbing at the windows,
where a dog yaps on a city balcony.
I should be involved I should care,
but work requires so little of me
I give it up, I let it float into the air.

This entry was posted in 40.1: INDONESIA and tagged , . Bookmark the permalink.

Related Posts:

Please read Cordite's comments policy before joining the discussion.