Hitunglah Kebaikan Yang Pernah Kau Berikan | Pony Up Your Beatitudes, Homeboys

By and | 4 November 2012

Hitunglah Kebaikan Yang Pernah Kau Berikan,
wahai teman-teman sepermainanku

Hitunglah kebaikan yang pernah kamu berikan, wahai teman-teman sepermainanku.
     Nujuma
dari penasehatku – yang bilang niat itu tak terlalu penting
untuk semua yang telah diniatkan – cukup untuk menjelaskan gagasan
tentang sebuah niat. Toponimi, hatinya berkedip-kedip bimbang menentukan pilihan,
di wilayah abu-abu, seperti notasi dari patung effigy di kuncinada G terbuka.
Apakah ini kelemahan kritik autobiografi?
Setelah satu dasawarsa merantau, tahun-tahun beliaku muncul dalam pandangan
bentanganlaut. Hati bisa berubah.
Santai saja, wahai teman-teman sepermainanku, dan jelaskan dengan cahaya
syarat-syarat kesempurnaan. Dalam pengucapan yang sama akan terlihat
keanekaragaman aset. Kita sama sekali tidak
menyerupai orang-orang suci yang pernah menjadi harapan kita.

Patung effigy: dalam konteks politik bisa berarti semacam boneka yang dibuat cepat-cepat untuk mewakili
seorang tokoh yang tidak disukai dan lalu boneka itu dibakar.


Pony Up Your Beatitudes, My Homeboys

Pony up your beatitudes, my homeboys. Auguries
of my mentors – for whom intention isn’t necessary
for all intentional – suffice for or elucidate the idea of
intending. The toponymy of flickering hearts in
swing states is a tablature of effigy in open G tuning.
Are these foibles of autobiographical criticism?
After a decade away, a return to the seascape of
my formative years swells. Hearts can change.
Slow down, my homeboys, and explicate with light
the conditions of completeness. In these same
utterances the diversification of assets. We don’t
look a thing like the saints we set out to be.

This entry was posted in 53: INDONESIA and tagged , . Bookmark the permalink.

Related work: